Laman

Minggu, 14 Februari 2010

Di tengah kehidupan modern yang penuh kisah dan semua berlomba untuk menuliskannya, sempat membuat saya terbingung sendiri dengan kenyataan yang hadir sekarang namun dalam kisah ini saya hanya ingin mengungkap sebuah kesaksian yang penuh pesan nyata yang hadir ditengah kehidupan. Dari sebuah gambar cerita mungkin dapat membuka mata kita betapa indah pesona yang harus kita jaga dan betapa indahnya juga hati yang harus kita pelihara.

Hadir seorang gadis nan cantik. “Bukankah dia hanya seorang gadis biasa”, tunjuk seorang pria kepada gadis itu. Gadis itu hanya tersenyum pada sang pria.
Gadis yang nan lugu. Bukan lugu dibuatnya namun itu yang benar ada pada dirinya. Dia memang benar hanya seorang gadis biasa bagi orang yang yang tak mengenalnya setelah satu kalimat terucap bukan main menggetarkan semua hati para kaum adam.
Karena itu, hanya senyuman yang bisa ia beri meski itu memberi arti lebih. Ia takut untuk berucap lagi.
Tidak ada yang luar biasa sebenarnya dari ucapan sang gadis tersebut hanya argumen yang dia luapakan semua tanpa rekayasa dari sebuah semangat kehidupan mengejar apa yang ia cintai di dunia ini.
Namun entah kenapa kaum adam begitu terpesona. Si gadis sebisa mungkin mencoba unutk menjaga.
Namun kesalahan gadis itu. Cinta yang sudah terlanjur luar basa ia berikan pada mimpinya itu. Sampai-sampai detiknya dalam kehidupan berfikir untuk membaca kehidupan. Karena dia juga tak pernah menyiakan pengalaman yang ada dalam hidupnya tersebut.

Pada suatu ketika gadis itu menemukan sebuah pulau yang sudah berpenghuni dia berfikir ada kunci disana yang terpendam dan bisa ia gunakan untuk membuka pintu-pintu mimpinya yang terkunci. Dia hanya berjalan masuk sampai bibir pantai saja. Tak ingin dia masuk lebih dalam karena dalam pulau itu penuh dengan kebahagian yang sebenrnya hanya terkaannya saja.
Gadis itu memiliki pemikiran yang panjang selalu penuh pertimbangan hingga entah kenapa kali ini dia berfikir tidak akan masuk lebih dalam pulau itu.

Namun khilaf masih datang ketika dalam sebuah ketidak sadaran bersandar dalam batinnya. Namun gadis itu bisa koreksi sendiri kehidupannya karena ia selalu membuat point-point kehidupannya dapal sebuah tulisan yang tak pernah mungki kita baca hanya ia sendiri yang menydari keberadaaan catatan kecil kehidupannya.

Saat malam menjelang ia hanya mengamati sesaat lalu ia pergi namun ada masalah yang menerpanya badai besar di depan sana membuatnya tertaih-tatih berjalan sepanjang bibir pantai dengan penuh kebingungan dalam hatinya namun ia terus berjuang berusah tetap tenang berharap menemukan sebuah batu besar yang ada dibibir pantai agar ia dapat berlindung. Namun seolah pulau itu tak ingin gadis itu pergi, badai yang tak berkesudahan memaksanya untuk memilih. Bertahan ditengah kebimbangan ataukah masuk kepulau itu dan berfikir tak ada siapapun dipulaui itu. Namun tak bisa kalau dia harus masuk kedalam pulau itu untuk berlindung, ia tak bisa masuk melanggar komitmennya dan pemikirannya. Jika ia masuk ke pulau itu semua karena paksaan jika gadis itu ingin selamat dari badai besar dan ia pun benar-benar bisa mencari kunci pintu mimpinya yang terpendam dipulau itu.

Namun jika ia terus berdiri di bibir pantai ada dua tantangan yang harus dia ambil:
1. Bertahan, badai itu berhenti dan ia tetap memiliki harapan mendapatkan kunci pintu mimpinya di bibir pantai.
2. Badai akan menggulungnya dan entah ka tak bisa menemukan apapun.

Atau ia berenang meninggalkan pulau itu dan segera kembali ketempat peristirahatannya ang sangat tenang.

Pilihan yang amat tersulit unutk gadis itu. aku juga masih menunggu ketegasan gadis itu untuk memilih.

Luar biasa bukan seorang gadis yang yang berfikir sejauh ini.

Semoga kita bisa menentukanpilihan terbaik. dan dari kisah yang kurang jelas ini kita bisa mengerti. __________________________________________-
Aku lelah

1 komentar:

  1. wah, kisah yang menyindir sbuah ketegasan dalam hidup. bagus mbak....follow balek ya mbak....salam silaturrahmi!

    BalasHapus