Tersenyum dalam keluh dan kesah. Tertawa dalam tangis dan rintihan kesepian. Semua itu ada setelah bagian hidup ku pergi.
Saat itu ku melaju dan Papa disamping ku dijalan yang lurus tanpa hambatan sedikit pun. Jalan seolah lebar membentang, lurus, dan sepi. Hari yang membuat ku sangat bahagia karena Papa kan menghantarkan ke depan gerbang mimpi ku. Cita-cita ku, sebentar lagi semua kan menjadi nyata.
Pagi yang sangat cerah.
Papa yang selalu tersenyum saat melihat wajah ku. Aku pun tidak mengartikan lebih, selain senyum bahagia seorang Papa kepada seorang anak nya. Saat itu, ku baru berumur 8 tahun. Wajarlah, kalau aku selalu dimanja.
Kalau harus mengingat senyum Papa sangat menenangkan, menurut ku.
Sampai disebuah kantor. Tempat para penulis menerbitkan semua karya nya dari berimajinasi dan itu membanggakan Indonesia. Sampai di kantor itu, ku langsung melompat turun dari mobil. Begitu senangnya Aku, Papa ku pun lekas mengejar ku. Tak disangka, ku bertemu dengan seorang lelaki yang tak pernah ku kenal sebelumnya. Namun saat ku dengar nama nya sudahlah tak asing lagi dipendengaran ku. Papa ku pun memberi tahu siapa dia. Aku pun tak ingin terkejut dengan apa yang Papa ku jelaskan. Hanya terkagum dan yang lebih penting dia membantu ku masuk dalam mimpi ku.
“Mana persyaratannya,” ujar suara parau yang sedari tadi ku panggil Om penulis.
Duduk dengan bijaksannya di kursi kerja nya. Papa menoleh pada ku yang sedang duduk di sofa kantor Om itu, lalu tersenyum pada ku. Ku pun hanya bisa menggelengkan kepala memberi isyarat ,aku juga tidak tahu. Karena memang semua serba mendadak. Papa ku pun mengejutkan, mengajak ke tempat ini. "Sanggar Menulis"
Ruangan ini tidak nyaman. Sedikit memiliki aura tidak enak, sumpek, hanya dingin tak alami ku rasakan karena jendela kantor nya tidak terbuka, dan ruangan sedikit gelap seolah penjara. Cahaya hanya sedikit dari luar. Ruangan hanya diterangi oleh lampu yang indah diatas sana. Namun ku sangat betah disini karena banyak rak buku yang berderet rapi diruangan yang luas ini. Semua buku tentang penulisan. Hingga membuat ku semangat untuk membacanya dan ingin lebih lama disini. Seolah ruangan ini memang dirancang untuk tempat kerja dan tempat bersantai. Di bagian ujung ruangan terdapat rak yang penuh dengan buku, dan di samping nya meja kerja Om penulis, yang sekarang tempat Om penulis duduk, dan asyk bercekrama dengan Papa. Gak tau apa yang mereka ceritakan ku hanya menikmati ruangan Om penulis ini. lalu di dekat pintu, terdapat sofa yang nyaman tersusun rapi disini.Ada satu yang menambah ku tertarik, yakni ada satu kursi untuk berbaring. "Mungkin itu tempat Om penulis beristiraht,” tembak dalam hatiku. Yah semua serba mendukunglah kalau untuk ukuran penulis. Suasana untuk menulis yang sangat mendukung juga.
“Om, Za boleh baca-baca buku di sana gak,” tanya ku sungkan.
“Ga apa Za baca ajah,” sahut Om penulis itu ramah. Seakan dia sudah mengenal ku lama.
"Hufh, sebernanya om itu ganteng banget, masih muda, hanya saja rambut, dan wajah nya terlihat amburadul." ocehku dalam hati. Wajah nya jelas terlihat dia jarang tidur. Kantung matanya terlihat jelas mungkin tuntutan hati dan profesi.
“Sayang Papa ke rumah dulu ya, kamu tunggu disini. Papa mau ngambil map yang tertinggal dirumah," ujar Papa yang mengejut kan ku saat membaca sebuah karangan fiksi tulisan Om penulis itu. “Za mau ikut Papa aja yah," sahut ku lirih, “tidak sayang kamu disini saja diluar hujan, Papa tidak bawa payung nanti kamu sakit kalau kena air hujan, lagi pula ayah Cuma sebentar untuk ambil Map aja, penting banget sayang”, coba Papa membujuk ku agar tak ikut pulang dan tetap di kantor itu dengan buku-buku yang sangat menarik dan bagus itu.
"Baiklah Papa, tapi jangan lama ya,” ku turuti mau nya Papa.
”Iya permaisuri,”ejek ayah memeluk ku.
Pikir ku pun entah kemana. Tidak ke papa, tidak jua kebuku yang ku baca. Namun tak ku hirau kan lagi Papa. ku hanya duduk rapi di antara buku-buku di ruangan Om penulis itu.
Terlihat dari kursi kantor Om itu ia sedang menghadapi kesebuah laptop dan pandangan matanya hanya ke layar laptop tersebut. keseriusan Om itu sangat terpancar jelas. Tidak membuat ku seram karena aku duduk di ruangan tamu. Segelas minuman dingin dan snack menemani ku.
Kian lama Papa tak kunjung jua datang, membuat ku khawatir. Jarum jam sudah menunjuk jam 04.00 sore WITA, hati ku bertanya. tidak mungkin hanya ke rumah untuk mengambil map saja selama 6 jam. Hati ku mulai lirih, ku bertanya-tanya dalam hati cemas. Ku tak bisa berbuat apa pun. Ku lihat keluar jendela ruangan Om itu, yang hordenya bisa di buka kapan saja. Hujan semakin deras dan petir pun dengan gagah nya menunjukkan kegagahan diatas sana.
"Om kok Papa belum kembali sih,” tanya ku takut pada om itu dan sedikit air mata di pipi ku. "Adik tunggu aja mungkin Papa ada kerjaan yang lain maka dari itu belum sampai," ujar Om itu ramah. Tidak mungkin Papa ada kerjaan hari ini kan hari rabu Papa sedang off, pikir ku dalam hati.
Air mata ini semakin membasahi pipi ku dan Om itu menghampiri ku. Meninggalkan laptop nya tanpa dimatikan. Om itu juga duduk di kursi tamu, ia coba membujuk ku untuk jangan menangis. Bagaimana tidak menangis Papa ku belum datang juga selama ini. "Sudahlah gadis manis jangan menangis," bujuk Om penulis itu dengan ramahnya. seolah sangat peduli, padahal dari ku datang ia hanya duduk di meja kantornya itu. Ia langsung beranjak duduk dan pergi ke meja kantor nya mengambil sebuah hp yang ku tau sedari tadi berdering, lalu ku lihat Om itu berbicara namun suaranya tak terdengar seolah ada yang disembunyikan dari ku. Hujan diluar sudah mulai reda jam sekarang menunjuk jam 06.00 soreWITA. Papa juga belum menjemput ku, ku pun tak berhenti menangis. Lalu om itu mengajak ku pergi dan membawa ku dengan mobil hitam yang sangat nyaman. Inova, melaju di jalan yang basah karena hujan seharian dan awan pun masih gelap. Sepanjang perjalanan aku menangis dan Om penulis itu sangat baik kepada ku namun ku tetap terfokus memikirkan Papa. Kenapa aku ditinggalkan janjinya akan kembali lagi...Namun, nyata nya tidak ada dan ku pun tak tahu Om itu ingin mengajak ku kemana. Ku ikut saja karena ku tak tahu apapun nama jalan rumah ku pun aku tak tahu. Apa lagi jalan di kota tempat ku tinggal ini.
Mobil yang ku tumpang berhenti didepan sebuah rumah yang sepertinya ku kenal. Ku tak bisa melihat jelas karena mata ku sedikit pedih dan enggan melihat cahaya karena menangis terus. Mata ku merah dan sedikit bengkak. Om itu pun membuka pintu mobil.
"Ayo gadis manis, kamu sudah sampai di rumah mu,” ujar Om Penulis itu ku turun dan ku bingung kenapa banyak orang dirumah ku. Terlihat Mama sedang berdiri didepan ku. ku berlari memeluk Mama. Ku menangis semakin keras dan ku pun belum bertanya kenapa di rumah ramai sekali.Sekarang ku cukup tenang karena sudah sampai dirumah. Mama juga terlihat habis menangis, matanya bengkak dan wajah nya pun terlihat sangat sedih. Aku pun hanya bisa mendesak tangis. Mama membawa ku masuk ke rumah, menambah tangis ku melihat seseorang yang terbaring tertutup kain dan dibacakan doa dengan banyak orang. Mama memeluk ku dan membawa ku kekamar. "Sabar sayang, Papa sayang sekali sama Za,” sepanjang perjalanan menuju kekamar Mama memeluk ku.
Mama memilih kan baju untuk ku pakai, baju warna putih dan pita di pinggul nya. Pemberian Papa saat ku ulang tahun ke-7, lusa kemarin.
Menambah tangis ku yang tak bisa keluarkan air mata lagi seolah sudah habis karena menangis terus. Mama menghapus air mata dipipi ku. "Jangan menangis lagi yah sayang, Za sayang kan ama Papa, jadi hapus air mata Za suapaya Papa gak sedih juga," bujuk mama agar ku bisa tegar, sedangkan Mama sendiri menahan tangis nya dan wajah nya pun sangat sedih. Ku tahu Mama berusaha tegar didepan ku, mencoba tersenyum kepada ku, agar ku tak menangis lagi.Nnamun kehilangan yang amat pedih Mama rasakan ku rasakan jua.
Aku menyalahkan diri ku sendiri karena aku, karena aku dan karena aku.
Papa seperti ini...
Aku yang salah...
duka ku dalam batin,.
Setelah pemakaman Papa (...)
Gebrakan Baru di Hari Istimewa
16 tahun yang lalu



Tidak ada komentar:
Posting Komentar